Keluarga Karun dan Karin
Keluarga Karun adalah keluarga sukses. Memiliki dua rumah mewah,
dua mobil mewah punya dua anak, lelaki dan perempuan. Cuma
Karun belum punya istri kedua. Tapi Karun tak mungkin punya istri
kedua. Istri satu saja pelitnya setengah mati. Karun sangat detail dan
cerewet dengan masalah kecil. Tak heran, kalau keluarga Karun dan
Karin berkumpul selalu saja bertengkar. Mulai dari mobil yang kotor,
bunga mati, kucing terlepas, burung yang belum dikasih makan,
sampai pada masalah uang belanja.
“Burung itu mati, karena nggak dikasih minum. Kamu kontrol dong
kerja pembantu,” ujar Karun kepada istrinya, yang bernama Karin.
“Kalau pengen rapi, tambah pembantu lagi, khusus merawat
binatang dan taman. Jangan satu pembantu mengerjakan
semuanya,” jawab Karin.
“Ogah! Tambah biaya.”
“Dasar pelit!”
Memang kasihan pembantunya. Ia mengerjakan seluruh pekerjaan
rumahnya, mulai dari ngepel, masak, setrika, memberi makan burung
sampai membersihkan taman. Hanya hari libur saja Karun
membersihkan kandang burung dan taman. Karun memang hobi
merawat burung dan menanam bunga. Burung cucakrowo, murai
batu dan bunga anggrek, kemuning merupakan kesayangannya.
“Mana Iyem?” tanya Karun.
“Sudah tidur pa!” jawab Karin.
“Jam segini sudah tidur?”
“Mungkin capek pa!”
Menurut istrinya, Karun tidak mau rugi membayar pembantu tiga
ratus ribu per bulan. Kalau bisa, pembantunya tidak boleh berhenti
bekerja. Karin sudah berulang kali mengingatkan suaminya, supaya
memberi waktu istirahat kepada pembantu. Tapi Karun tidak perduli.
Tak heran, pembantunya sering gonta-ganti. Namanya pembantu
fungsinya membantu pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh
majikan. Tapi kalau pembantu disuruh serbabisa mengerjakan
semuanya, tidak perlu jadi pembantu. ”Pembantuku ini sebaiknya jadi
majikan. Suamiku jadi pembantu!” tanya hati Karin. Karun juga sering
memperlakukan Karin seperti pembantu, kalau tagihan listrik, telepon
dan air membengkak marah-marah.
***
“Pa, aku mau kerja,” pintanya kepada Karun.
“Boleh kerja. Tapi kamu harus menggaji sopir antar jemput anakmu,”
jawab Karun
“Itu namanya nggak adil.”
“Kamu ingin mengelak tugas.”
CERPEN http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0730/bud1.html
2 of 6 19/09/2008 8:32
“Aku sudah bosan dicatu. Aku ingin punya uang sendiri.”
Karin sudah bosan dijatah per bulan! Karin sudah bosan diawasi
kayak maling! Karin sudah bosan dimaki-maki! Karin sudah bosan
minta-minta kepada suaminya! Karin sudah bosan tinggal di rumah
saja! Karin sudah bosan bertengkar masalah uang! Karin sudah
bosan ngirit!
” Kamu itu boros! “cetus Karun.
“ Kalau gitu kamu saja yang pegang uang belanja!” jawab Karin.
”Ogah! Nanti aku bunting!”
“Ya biar tau, bagaimana rasanya bunting!”
Karun sadar, bahwa istrinya bekas anaknya orang kaya raya. Semua
serba ada. Ia tahu istrinya tersiksa. “Kalau kamu kerja buat apa
uangnya?” tanya Karun.
“Aku ingin beli pakaian yang mahal.”
“Misalnya.”
“Baju yang bermerek. Aku nggak mau lagi beli baju obralan.
“ Gitu aja?”
“Ya enggak! Aku mau pakai sepatu luar negeri. “
“Terus apalagi?”
“Aku mau beli make up yang mahal.”
“Cuman itu?”
“Aku juga nggak mau pakai celana dalam sepuluh ribu tiga!”
“Baju yang bermerek. Aku nggak mau lagi beli baju obralan.”
“ Gitu aja?”
“Ya enggak! Aku mau pakai sepatu luar negeri.”
“Terus apalagi?”
“Aku mau beli make up yang mahal.”
“Cuman itu?”
“Aku juga nggak mau pakai celana dalam sepuluh ribu tiga!”
Ternyata selama ini Karin bukanlah wayang golek, yang bisa didekte.
Ia memberontak atas perlakuannya. Tidak ada jalan lain buat Karun,
selain memperbolehkan istrinya bekerja. Konsep hidupnya ternyata
gagal diterapkan kepada Karin. Dengan rumah dan mobil mewah,
ternyata istrinya menuntut hidup mewah juga. Maunya dengan rumah
dan mobil mewah, istrinya rela berkorban hidup prihatin. Biar makan
ikan asin, dan pakaian murah, yang penting punya rumah dan mobil
mewah. Namun Karin menentang konsepnya. Sedangkan Karun
merasa puas memandang rumah dan mobilnya. Tetapi Karin tidak
bisa menikmati rumah dan mobil mewah, bila kehidupan sehari-hari
seperti orang miskin.
“Bagaimana?”
Karun ragu menjawabnya.
“Semakin hari diriku semakin tua. Kebutuhanku makin banyak. Aku
nggak mau bila sakit dibawa ke pengobatan alternatif.”
Kata sakit sangat menakutkan buat Karun. Bukan takut dengan
sakitnya, tapi dengan biaya. Kalau Karun sakit gigi, lebih baik
mengunyah daun sirih, ketimbang pergi ke dokter gigi. Jika Karin
sakit gigi lebih baik ke dokter gigi, daripada mengunyah
daun sirih. Karin lebih percaya kepada medis, Karun lebih
percaya kepada pengobatan alternatif. Perbedaan semacam inilah
yang membuat Karun dan Karin sering bertengkar!
“Ya, silakan saja bekerja,” jawab Karun menyerah.
***
Akhirnya Karin kerja di sebuah perusahaan ekspor impor milik
pamannya. Karin rela membayar sopir antar jemput anaknya,
sebesar satu juta rupiah. Tak berarti, dibandingkan gajinya yang lima
belas juta rupiah per bulan. Sekarang Karin sudah punya uang
sendiri. Karin bebas berbelanja barang mewah, mulai dari pakaian
sampai ke make up. Suaminya tak mungkin menyuruh memakai
celana dalam sepuluh ribu tiga lagi. Tidak pakai celana dalam,
seperti telanjang. Dipakai gatal! Terpaksa pakai celana dalam yang
usang. Karin ketawa ngakak ketika menyaksikan pengakuan Hughes
CERPEN http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0730/bud1.html
3 of 6 19/09/2008 8:32
yang celana dalamnya usang. “Selamat tinggal celana dalam seribu
tiga!” Kata hatinya menjerit. Setiap hari libur, Karin mengajak
anaknya jalan-jalan ke mal, mulai dari Senayan Plaza, Sogo, Blok M.
Kadang Karin belanja di mal sampai lupa waktu. Jika ingat belanja di
mal dengan suaminya, ia merasa sedih dan miskin. Kalau nggak ada
barang obralan tidak mau beli!
“Pa minta sepatu itu dong?” pinta anak perempuannya.
“Jangan itu mahal!”
“Pa minta celana jins dong?”
“Jangan itu mahal!”
“Pa makan dong?” pinta anak lelakinya.
“Jangan di sini mahal,” jawab suaminya.
Bagaimana Karin meminta kepada suaminya? Sedangkan
permintaan anaknya saja dibilang: Jangan mahal. “Di mal hanya cuci
mata saja!” kenang Karin.
“Enak kalau ke mal tidak dengan papa,” kata anak wanitanya.
“Inikan uang mama. Kalau uang papa mana boleh?” kata anak
lelakinya.
“Iya ma?” tanya yang wanita.
“Ya,” jawab Karin.
Karin senang bisa membahagiakan anaknya. Anak bagi Karin
segala-galanya. Tak pernah Karin berpikir untung rugi dalam
membiayai anak. Anak bukan investasi masa depan, tapi sebagai
tanggung jawab orang tua mendidik dan membiayai. Karun dan Karin
dalam mendidik anak, polanya berbeda. Karun menggunakan konsep
orang tuanya, sedangkan Karin, konsepnya yang inheren dengan
keadaan sekarang. Setuasi dan kondisi merupakan titik tolak
pendidikan. Pendidikan masa lalu tidak bisa diterapkan pada anak
sekarang. Sebab zaman yang akan dihadapi anaknya berbeda
dengan zaman dirinya. Maka berdosalah bila ada orang tua
memenjarakan pikiran anak. Anak adalah mata air yang menentukan
muaranya sendiri.
“Rin, aku nggak setuju kau membelikan barang mewah kepada
anakku,” kata Karun.
“Mareka juga anakku. Aku nggak mau anakku minder, soal
penampilan,” jawab Karin.
“ Kacamata dua juta itu tidak normal?”
“Papa mau membelikan kacamata cengdem, seceng adem?
“Tapi fungsinya kan menutup mata?”
“Ini kacamata pantai! Kacamata cengdem nggak cocok. Anakku
harus menghargai dirinya, bukan menghinakan dirinya. Dia itu anak
siapa? Kalau anaknya tukang ojek sih nggak apa-apa.”
“Kalau harga sepatu sepuluh juta kau belikan?”
“Lihat konteksnya? Kalau sepatu panjat tebing mau nggak mau.”
“Aku dulu panjat tebing nggak pakai sepatu?”
“Lain soalnya. Kamu dulu sekolah nggak pakai sepatu. Kakimu
sudah terlatih menginjak benda keras. Kamu kan baru pakai sepatu
waktu di SMA. Itu pun sepatumu selisihan”
“Jangan mengungkit masa lalu!
“Kamu duluan yang mengungkit? Masa lalumu selalu kau terapkan
kepada anak-anakmu. Makan telur satu harus dibagi empat. Kalau
kita nggak punya wajar. Sementara kita mampu beli telur sehari
seratus biji?” Sedangkan anak-anak itu butuh gizi untuk
pertumbuhannya! Kenapa nggak sekalian anak-anak disuruh makan
tiwul saja, seperti kamu dulu?”
Mendengar kata-kata istrinya, Karun seperti maling tertangkap
basah. “Tapi sekarang kan tidak?”
“Itu kan gara-gara anak-anak mogok makan, sehingga masuk rumah
sakit? Ternyata berobat lebih mahal daripada harga satu telur? Kamu
menyerah!”
“Tapi apa hubungannya kacamata dan telur?”
“Sama sebangun! Telur bulat kacamata bulat!”
“Kamu jangan ngawur jawabnya?”
CERPEN http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0730/bud1.html
4 of 6 19/09/2008 8:32
“Karena logikamu mandul. Lihat konteksnya dong? Nggak semua
bisa diirit! Orang sakit ya dibawa ke rumah sakit, jangan dibawa ke
pengobatan alternatif!
Karun memang lebih sayang pada harta bendanya. Ia lebih baik
menahan sakit ketimbang pergi ke rumah sakit. Apalagi biaya rumah
sakit tidak bisa ditawar. Kalau ke pengobatan alternatif biayanya
murah. Bagi Karun, seorang dokter tidak lebih seperti lintah darat.
Rumah sakit tidak berbeda dengan kantor pajak.
“Pa, anak-anak besok minta ke Dufan. Kamu ikut nggak?”
“Boleh.”
Setengah hari penuh Karun dan Karin mengajak anak-anaknya
bermain di Dunia Fantasi. Anak- anaknya bebas bermain apa saja.
Karun dan Karin hanya mengikuti.”Udah ma. Makan yuk?” pinta anak
lelakinya. Sambil makan di restoran Marina, Karun sekali-sekali
mencuri padang kepada wanita cantik. Karin tahu keliaran mata
Karun. ”Kalau wanita yang berbaju merah itu biayanya mahal,” cetus
Karin nyindir. Yang disindir masabodoh.” Memang gue pikirin?
Mumpung gratis!” Kata hati Karun. Karin sebel melihat sikapnya.
“Gila kamu! Ngasih tukang parkir sepuluh ribu,” cetus Karun.
”Pa, ngasih sepuluh ribu tukang parkir kita nggak bangkrut?”
“Tapi itu nggak normal!”
“Hitung hitung untuk membelaku di kuburan.”
“Apa hubungannya dengan kuburan?”
“Yang membelaku di kuburan cuma amalku. Bukan suami, bukan
anak, bukan harta dan bukan jabatanku,” cetus Karin mantap.
Karun dan Karin bergulat dengan pikiran masing-masing di dalam
mobil. Anak-anaknya tertidur lelap di jok belakang. “Sudah nggak
bayarin, protes saja!” Ujar hati Karin. “Istriku berubah total sejak
bekerja,” kata hati Karun. Karin melihat pakaian suaminya kumal dan
murahan.” Dia ini suamiku atau sopirku sih?” Tanyanya. Karun
melihat penampilan istrinya begitu anggun dan mahal!
“Pa, ngisi bensin dulu,” kata Karin sambil menyodorkan duit seratus
ribu.
Karun turun mengisi bensin. Tukang bensinnya bertanya, ”Pak dibuat
berapa liter?” Karun tersinggung dengan pertanyaan itu. Ia dianggap
sopir oleh tukang bensin. ”Ya tulis apa adanya,” cetus Karun agak
marah. “Mumpung nyonya lagi tidur, pak!” ujar tukang bensin.”Sudah
diam kamu!” bentak Karun jengkel.
“Ada apa denganmu?” tanya istrinya.
“Lagunya nggak enak,” jawab Karun sebel. Karun merasa istrinya
tahu, kalau ia dihina oleh tukang bensin. Padahal Karin hanya
mendengar suaminya membentak tukang bensin. Karun sakit hati
dengan tukang bensin tersebut. Mobil yang dibeli dengan susah
payah, ternyata tidak dihargai. “Apakah tampang sepertiku tidak
berhak punya mobil mewah?” tanya hatinya. Padahal ia lebih tampan
daripada Mandra. ”Kenapa Mandra dipercaya punya mobil mewah,
sedangkan diriku tidak? Mungkin Mandra terkenal! Aku tidak!”
katanya menghibur hati.
“Pa minggu depan aku dapat Voucher nginap di hotel. Ikut nggak?”
“Enggak. Aku di rumah saja. Nikmati saja kehidupan berjuismu.
Karun di rumah hanya ditemani Iyem. Dengan memakai celana
pendek dan kaos kutang bolong-bolong, Karun membersihkan taman
di depan rumah. Ia memangkas rumput yang mulai meninggi. Daun
bunga dan potongan rumput itu dimasukkan ke tong sampah, lantas
dibakar. Karun suka bau daun yang terbakar.
“Permisi. Tuannya ada?” tanya seseorang.
“Aku tuannya,” jawab Karun sambil bertolak pinggang
“Jangan bercanda Ah! Bapak bukan tukang kebunnya?”
“Jangan kurang ajar kamu ya! Apa keperluanmu ke sini?”
“Dari kelurahan, Pak. Mau minta sumbangan Agustusan”
“Kamu orang baru ya?”
“Iya!”
Dengan emosi Karun mengeluarkan duit seratus ribu rupiah, supaya
CERPEN http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0730/bud1.html
5 of 6 19/09/2008 8:32
orang kelurahan tahu, bahwa ia adalah tuannya.”Nih!” cetusnya.
“Terima kasih. Tandatangannya, Pak?”
“Nggak usah tanda tangan-tanda tanganan!”
Tamunya tidak bisa disalahkan, karena rumah mewah bertingkat dua
itu tidak menyatu dengannya. Aura Karun tidak kelihatan seperti
orang kaya. Apalagi dengan pakaian yang compang-camping. Tidak
salah kalau tamunya menganggap Karun sebagai tukang kebun.
Dengan perasaan yang tidak nyaman Karun memandangi rumah
mewah itu. ”Apakah aku tidak pantas memiliki rumah ini? Sudah dua
kali aku dihina orang!” tanya hatinya. Benarkah kata istriku: “Aku
kurang mengharagai diriku sendiri! Aku terlalu pelit dengan diriku!
Sehingga orang tidak menghormatiku? Aku orang kaya tapi berjiwa
gembel?” Karun meragukan eksistensinya. Memang, mengubah
watak tidak semudah membalikkan tangan.”Ah, yang tidak
menghormatiku cuman tukang bensin dan pesuruh kelurahan?” bela
hatinya. Ia mencoba menikmati kesedihan itu, sambil mendengarkan
suara burung dan harum bunga. Hatinya bergetar seperti daun ditiup
angin.
Karin sepulang dari hotel mobilnya diserempet bajaj di Pejompongan.
Tidak mungkin Karin minta ganti rugi kepada sopir bajaj. Karin tahu
kemampuan tukang bajaj. Kalau pulang dalam keadaan mobil baret,
bisa bertengkar besar dengan Karun. Ia mencoba tenang dan
berpikir.
”Bagaimana nih ma?” tanya anaknya barengan.
”Kita sol saja di Kramat!” jawabnya tegas. Karin minta kepada tukang
cat, supaya tidak kelihatan mobilnya habis keserempet.
”Harus disembur. Tapi makan waktu lama. Kalau disol, seminggu
baru kelihatan,” kata tukang catnya.
“Sol aja deh!” jawab Karin.
Ketika pulang ke rumah, Karin dan anak-anaknya melakukan
gerakan hemat bicara. Karun agak bingung dengan sikap mereka.
Biasanya mereka bercerita bila habis bersenang-senang di luar. Tapi
ini kali tidak ada yang diceritakan. “Ada apa ya?” Tanyanya. Karun
mencoba memancing-mancing anaknya untuk bercerita. Tidak
berhasil! Istri dan anaknya selalu menghindar bila berpapasan. Karun
merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istri dan anaknya.
“Apakah mobil habis nabrak? “Tanyanya. Karun pura-pura
mengontrol oli mesin mobil. .
“Sudah dicuci mobilnya di hotel,” cetus istrinya.
“Hebat juga tukang cucinya. Berstar!”
“Ya. Harganya dua ratus ribu!”
“Mahal benar?”
“Pakai kompon yang paling mahal.”
“Kamu buang duit aja!”
“Namanya mobil mahal. Kalau nggak dirawat kelihatan murahan!”
“Kamu jangan nyindir!”
“Kamu saja yang sensitif!”
“Kamu selalu mengajak bertengkar!
Puncak pertengkarannya, ketika Karun tahu mobilnya habis disol.
Karun marah merasa dibohongi Kebohongan akan melahirkan
kebohongan. Kebohongan itu candu! Kalau sudah kecanduan
berbohong akan sulit melepaskannya. Kadang kita tidak pernah
menghitung berapa kali sehari berbohong?
“Aku tidak suka kau membohongiku,” katanya kepada Karin.
“Menghadapi kamu berbohong dan tidak berhohong sama saja!”
“Apa maksudmu?” tanya Karun.
“Aku sebetulnya tidak mau berbohong. Musibah itu tidak disengaja.
Pasti kamu tidak nerimakan? Apalagi benda yang kamu sayang!”
“Jelas dong!”
“Sekarang maumu apa? Apakah aku cat ulang mobil itu?”
“Percuma. Tidak orsinal lagi!”
“Lantas maumu apa?”
“Jual saja mobil itu!”
CERPEN http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0730/bud1.html
6 of 6 19/09/2008 8:32
“Aku pakai apa?”
“Beli sendiri!”
“Kalau gitu aku minta cerai!”
“Baik!” jawab Karun emosi.
Hening!
Keesokan hari Karun berkonsultasi dengan pengacara. Dalam
perceraian harta gono-gini akan dibagi dua. Karun keberatan dengan
pembagian itu. Ia tidak rela, kalau Karin menerima separuh dari
kekayaannya. Rasanya tidak adil karena ia yang kerja. Karun mulai
berpikir ulang atas pemintaan cerai istrinya. Dari enam miliar, istrinya
akan menerima tiga miliar.
“Apa nggak ada jalan lain?” tanya Karun kepada pengacaranya.
“Nggak ada. Itu sudah hukumnya. Yang kerja suaminya atau istrinya,
tetap saja harta gono-gini dibagi dua. Contohnya Hughes! Kalau
takut kehilangan harta, jangan cerai!” ujar pengacaranya
menjelaskan. Karun pusing tujuh kelililing. Sedangkan Karin hanya
menjelaskan posisinya kepada anak-anak. Karin sama sekali tidak
membicarakan harta gono-gini.
”Terserah kalian ikut mama atau papa!” Secara aklamasi
anak-anaknya menjawab ikut dirinya. Langkah Karin semakin mantap
untuk bercerai”
“Kau masih ingin bercerai?” tanya Karun.
“Ya. Sudah nggak ada jalan lain.”
“Pertimbangkanlah sekali lagi?”
“Sudah nggak ada pertimbangan. Apalagi anak-anak mau ikut
denganku!”
“Kalau kamu nggak jadi cerai denganku, kuberi kebebasan.”
“Kebebasan apa?”
“Seperti maumu. Aku patuh!”
Ada apa dengan suamiku? Apakah ia mencintaiku? Karin tidak tahu,
suaminya tidak mau cerai bukan karena mencintai dirinya. Tapi
Karun lebih mencintai harta bendanya.***
Selasa, 23 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar